Sri Sultan Hamengku Buwono X Maju Capres Maaf, Yang Tersisa Hanya Tiket Cawapres

Sri Sultan Hamengku Buwono X akhirnya menyatakan diri siap maju sebagai calon presiden. Kesiapannya ini dinyatakan di depan ribuan rakyat Yogyakarta yang hadir dalam acara Pisowanan Ageng di Alun-alun Utara Keraton DIY, Selasa 28 Oktober 2008, lalu.

Pernyataan Sultan ini semakin mempertegas keinginannya untuk tampil menjadi orang nomor satu di republik ini. “Saya tidak tahan dengan penderitaan masyarakat, rakyat tetap miskin dan menganggur. 10 Tahun reformasi tidak ada perubahan fundamental yang mengubah bangsa ini untuk maju, sejahtera dan pemerintah yang akuntabel,” begitu alasan Sultan yang dilontarkan saat acara pisowanan Ageng.

Sejauh ini majunya Sultan sebagai capres sudah mendapat dukungan dari beberapa kalangan di Partai Golkar. Sebut saja Sentral Organisasi Swadiri Indonesia (SOKSI), salah satu elemen penting di Golkar. Pada 8 Oktober lalu, SOKSI meminta Sultan untuk maju sebagai capres.

Selain SOKSI, sejumlah DPD Golkar, yakni DPD Golkar DIY, Lampung, NTB, Papua dan Gorontalo saat Rapimnas IV Golkar dua pekan lalu memasukkan nama Sultan dalam usulan capres dari Golkar.

Sekalipun sejumlah kalangan di Golkar sudah memberikan dukungan, bukan berarti nama Sultan mulus-mulus saja untuk menjadi capres dari Golkar. Sebab sejauh ini partai berlambang beringin terlihat  masih ingin menjagokan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK).

“Untuk saat ini DPP  tetap konsisten dengan hasil Rapimnas. Saat ini kami lebih fokus pada pemilu legislatif, (pileg) belum pada urusan capres. Kalaupun Sultan sudah mendeklarasikan diri siap maju sebagai capres itu haknya,” jelas Ketua DPP Golkar Firman Subagyo kepada detikcom.

Firman juga mengaku nama-nama capres yang muncul hasil Rapimnas baru akan digodok setelah pileg. Sebab saat ini DPP Golkar baru ingin menyusun soal aturan mainnya. Untuk menjaring capres-capres dari Golkar, Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Golkar rencananya akan menggunakan metode survei.

Pengamat dari Reform Institute, Yudi Latif memprediksi, jika metode survei benar-benar dijadikan acuan Golkar,  Sultan sangat berpeluang untuk menjadi capres dari Golkar. Sebab, kata Yudi, dari sejumlah hasil survei yang ada nama Sultan berada di urutan pertama capres populer dibanding tokoh Golkar lainnya.

Namun mengandalkan hasil survei saja bukan jaminan bagi Sultan. “Selain survei, Sultan juga harus melakukan manuver di internal Golkar supaya posisinya semakin kuat. Karena bisa saja ia dijegal di tengah jalan,” jelas Yudi saat dihubungi detikcom.

Manuver-manuver yang harus dilakukan Sultan, jelas Yudi, dengan mendekati kelompok-kelompok sakit hati yang ada di Golkar, misalnya Fadel Muhammad, Yuddy Chrisnandi dan Akbar Tandjung.

Tapi sayangnya, DPP Golkar juga membuka peluang pada calon-calon lain di Golkar, terumasuk bagi Fadel, Akbar dan Yuddy. Sehingga ketiga tokoh Golkar tersebut dipastikan akan lebih memikirkan pencalonan diri mereka masing-masing. “Untuk dapat tiket capres dari Golkar Sultan harus kerja ekstra,” ujar Yudi.

Bagaimana bila tidak dapat tiket capres dari Golkar? Apakah Sultan akan mencari tiket dari partai lain? Untuk saat ini partai di luar Golkar, yang menyatakan siap mendukung baru partai anyar yang miskin pendukung. Misalnya Partai Republika Nusantara, yang dipimpin  Muslim Abdurrahman.

Sementara partai-partai yang cukup besar sekalipun masih wajah baru, memilih menjagokan pimpinannya sebagai capres. “Kami sudah 100 persen mendukung Wiranto untuk jadi capres dari Hanura,” jelas Wasekjen Hanura Saleh Husin kepada detikcom. Tapi kata Husin, ada kemungkinan Sultan akan dijajaki untuk menjadi pendamping Wiranto, yakni menjadi cawapres.

Pernyataan yang sama juga dikatakan Partai Gerindra. Partai yang berlambang kepala burung garuda tersebut menyatakan keputusan mengusung Prabowo Subiyanto sebagai capres sudah final. “Keputusan kami sudah final mencalonkan Prabowo sebagai capres,” jelas A. Nuzani, Sekjen Hanura.

Sama seperti Hanura, Gerindra juga akan coba menjajaki supaya Sultan menjadi cawapres Prabowo. Menurut Muzani, pembicaraan-pembicaraan antara Prabowo dan Sultan memang sudah beberapa kali dilakukan.

Sementara Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) melihat popularitas Sultan cukup tinggi. Selain itu Sultan juga dianggap sebagai tokoh penting reformasi 1998. Sehingga Sultan dinilai layak jadi presiden.

Namun, kata Ketua Pelaksana Harian PDP Roy Janis, partainya saat ini belum bisa memikirkan urusan capres. Sebab masih konsentrasi menghadapi pemilu legislatif. “Saat ini kami sedang fokus di pileg. Jadi belum bisa dukung-
mendukung dalam pencapresan,” jelasnya.

Dengan pengakuan sejumlah partai tersebut bisa dipastikan langkah Sultan bakal semakin berat untuk meraih tiket di Pilpres 2009. Di Golkar Sultan harus berebut tiket dengan sesama kader beringin. Sementara di partai lain tiket capres sudah dibooking pimpinan partai masing-masing. Maaf, hanya tiket cawapres yang masih tersisa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: